Laman

Selasa, 09 Desember 2014

Untuk kalian

Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah jatuh. Aku bahkan berjalan kesini dengan penuh lumuran darah dan terseok-seok.

Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah menyapu bersih lantai yg kotor itu. Aku bahkan pernah melalap habis semua sampah yg berserakan itu.

Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah sedih. Namun, aku berdiri disini hanyalah untuk dua orang malaikat dalam hidupku. Untukmu ibu dan untukmu ayah.

                           drg. Mega Dita Agustin
                          10 tahun yg akan datang

Minggu, 07 Desember 2014

Surat untuk ayah

    Mentari menenggelamkan wajahnya yang telah lelah bersinar seharian. Petang berganti malam. Sinar berganti gelap. Hanya lampu lampu kecil jalan yang menghiasi malam.
    Masih sama. Aku berkecamuk dalam rindu yang tak bertepi dan sepi yang menjadi-jadi. Bahkan dikeramaian ini. Aku hanya mengurung hati.
   Ayah, sedang apa disana?
   Setiap kali aku ingin memejamkan mata di malam hari. Yang kudoakan hanyalah namamu. Biarlah, biarlah sayang ini kutitip pada-Nya. Biarlah, biarlah rindu ini agar disampaikan oleh-Nya.
    Ayah, bisakah sejenak kau menghampiri mimpiku? Hanya untuk memberi peluk hangatmu itu. Ayah, tahukah kau apa yang paling menyiksa di dunia ini? Adalah rindu yang tidak tersampaikan.
    Salam rindu,
    Ur lovely daughter...

Rabu, 19 November 2014

                              "Jadilah engkau seperti akar; yang dalam diamnya, ternyata bekerja 
sekuat tenaga untuk mencari air yang jauh demi pohonnya tumbuh subur. Dan ketika pohon sudah tumbuh dengan begitu cantik, ia tetap bersembunyi tanpa melihatkan keangkuhannya."

Rabu, 24 September 2014

Dia telah kembali pada-Nya

Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah, pertama-tama aku ingin memohon pada-Mu untuk tidak mengizinkan air mataku jatuh satu tetes pun saat menuliskan semua ini. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menulis ini, namun yang terjadi hanyalah derai air mata yg tak berkesudahan.

Takbir menggemah. Bahagia merasuk dalam jiwa. Hari yang fitri akhirnya datang juga. Namun, tidak beserta kebahagiaan di langit rumah kami. Masih teringat jelas bagaimana bahagia saat malam takbiran itu datang, bercumbu dipangkuanmu layaknya seorang anak kecil yang ingin dimanja, berbagi cerita seperti biasanya. Namun, pagi yang menyakitkan itu tiba-tiba menggantikan kebahagiaan malam kami. Tepat tanggal 28 juli, 13 hari setelah ulang tahunnya. Pukul 05.00, aku telah melihatnya tak lagi berdaya. Punggung yang tadinya kokoh, sekarang terlihat lemas. Mata yang tadinya berbinar, sekarang tampak lelah. Kebahagiaan benar benar terkoyak saat ini. Aku melihatnya tidak lagi sama. Matanya tak lagi bisa melihat lurus, bibirnya sudah memengot, memopong tubuhnya saja dia tidak bisa. Ada apa sebenarnya? Ayah, bukankah kau baik baik saja semalam? Kami bergegas memanggil kakak kami, karena rumah kami sudah tidak serumah lagi dengannya. Dengan kencang, kakakku membawa mobilnya sambil penuh derai airmata. Ibuku terlemas duduk disampingnya dan juga bercucuran air mata tanpa henti. Satu jam... Dua jam.... Tiga jam.... Menunggu agar dia mau diajak ke rumah sakit, namun beliau tidak mau. Ayah, ayolah waktu kita tak banyak. Karena semakin lama kau dirujuk kau akan semakin sulit. Akhirnya, ia mengiyakan. Di dalam mobil, ia masih bersenda gurau seperti biasanya. Tidak pernah sedikitpun aku mendengar dia mengeluh kesakitan, padahal aku tahu sekali bahwa itu pasti sangat menyakitkan. Sesampainya dirumah sakit, melihatnya dibopong aku seperti melihat seseorang yang bukan ayahku. Ayahku tak mungkin selemas itu. Ayahku adalah orang terhebat dan terkuat. Dirumah sakit, saat sedang ditanganu oleh dokter aku terus beruraian air mata. Dia memelukku erat, mengelus elus rambutku dengan mesra dan berkata, "Adek harus kuat, adek harus tegar ya" tangisanku semakin kencang. Membuncah begitu hebatnya. Disaat ia masih harus berjuang, ia malah menguatkanku tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Sesaat setelah kami berbicara, tiba-tiba ia tak bersuara lagi. Dia terdiam dan terpejam. Kami kira dia tertidur. Tetapi ternyata, suster membangunkannya dan dia sudah tidak sadar lagi. Namun, Allah masih berbaik hati. Nadinya masih berdenyut. Jantungnya masih berdetak. Aku menjerit sekuat-kuatnya hingga semua orang di dalam UGD harus memopongku. Allah, izinkan aku lebih lama disampingnya. Aku mohon......
Keesokan harinya, tanggal 29 Juli 2014, tak henti hentinya aku membacakan surat yasin untuknya. Tak henti hentinya aku membimbingnya untuk membaca syahadat. Kukuatkan dia, kubisikkan ditelinganya, "Ayo pa.... Semangat! Papa kan mau lihat adek jadi dokter dulu" namun tetesan air mata itu tak tertahan. Jatuh tertumpah dipipinya. Kuusap pipinya lalu kuciumi seperti biasanya. Walau dia tak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu dia mendengar dan merasakan apa yang kulakukan padanya. Derai air matapun keluar dari sudut matanya tak henti henti. Dan badannya perlahan-lahan ia gerakkan. Bahagia bukan main, kakinya bergerak dan badannya terangkat-angkat. Kira-kira pukul 12.00 dokter memeriksanya, dan kami diperintahkan untuk keluar dari ICU. Kami pun beranjak ke mushollah rumah sakit untuk solat zuhur. Dalam solatku, masih sama. Air mata tertumpah ruah diatas sejadah. Setelah selesai berdoa. Aku dan kakakku berpelukan, kakakku bilang, "Kita harus ikhlas dek, apapun yang terjadi. Mbak tau ini berat. Tapi kita harus ikhlas dek!" aku mengangguk lalu menggeleng. Entah, aku bingung mau menjawab apa. Ayahku, seseorang yang sangat dekat denganku aku ikhlaskan begitu saja? Tidak mungkin sekali. Kami bergegas kembali ke ruang tunggu ICU. Aku, ibuku, dan ke-tiga kakakku beserta omku ada disana. Kami sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba di speaker terdengar suara, "Keluarga pak Salim silahkan masuk!" sampai tiga kali. Kami pun serentak kesana. Dan disana dokter berkata padaku, "Ayo dek bimbing ayahnya!" setelah itu alat yang ayahku pakai berubah menjadi angka 0. Pupus sudah. Dokter berkata padaku, "Dek, ini ayahnya sudah gak ada. Kita lepas ya alatnya..." "Jangan dulu, dok. Kita tunggu 5 menit. Tunggu, dok" "Baiklah" *setelah 5 menit* "kita lepas ya dek" "Dok, tolong periksa denyut nadinya dengan alat, dok. Ayah saya masih disini!" setelah itu benar-benar diperiksa. Dan menyatakan bahwa beliau memang sudah tidak ada. Aku tertunduk lemas. Menjerit sejadi-jadinya. Kubangunkan ayahku beberapa kali. Namun takdir mengatakan lain. Ini adalah janjinya dengan-Nya. Sudah menjadi kontraknya. Aku tetap tak percaya. Kuciumi pipi, mata dan bibirnya. Aku harap dia kembali ada. Benar benar tidak ada. Aku benar-benar tak berdaya. Ibuku dan aku nyaris pingsan. Kami dibopong oleh banyak orang. Tapi kakak-kakakku menguatkan kami walau mereka juga sangat sedih dengan semua ini. Tersentak bukan main. Ya Allah, begitu cepat caramu mengambilnya........

"Kematian itu pasti. Kita semua akan kembali pada-Nya. Cepat atau lambat. Karena semua sudah tertulis jelas di lauhul mahfudz. Tugas kita bukan hanya menunggunya namun juga memperbaiki diri kita. Ajalmu tidak menunggu taubatmu" - Ayah

Selasa, 01 April 2014

Titik

Sebenarnya aku tak tahu sudah seberapa lama aku menunggu sesuatu yang tak pasti ini
Sudah berapa juta detik kuhabiskan hanya untuk menunggu yang menyakitkan
Memang benar, terasa sangat hampa....
Apalagi ketika kau tahu bahwa yang kau tunggu tidaklah menunggumu jua
Pun yang kau rindu-rindu tidak merindumu jua

Aku terdiam. Tersandar lemas di dinding kamarku.
Mengusap air mata yang mengalir begitu derasnya
Setelah sekian lama, aku hanya bisa menahan sungai di ujung mata ini
Ingin kumaki diriku dan dirimu!
Terlalu bodoh terpaku dalam waktu
Waktu yang tak pernah habis walau ditunggu-tunggu

Kau tahu?
Semalam adalah malam pemberhentianku menunggu
Malam yang tiada lagi koma didalamnya
Yang hanya ada titik dan tak ada tanda lainnya
Malam yang begitu menghancur leburkan hatiku
Yang didalam benakku hanya ada maki dan cemooh diri

Aku ingin melupakanmu sesederhana titik dalam akhir tulisan
Yang tiada lagi koma, ataupun tanda lainnya
Habis oleh titik
Selesai sampai disitu saja
Tidak berlanjut lagi

Suatu saat nanti, ketika kau membutuhkanku
Mungkin aku tak lagi dihadapanmu
Tiada lagi yang menunggumu seperti biasanya
Yang selalu bertanya apa kabarmu
Yang selalu mendoakanmu diam-diam
Yang selalu cemas akan hidupmu disana

Terima kasih telah menggoreskan luka dihatiku
Yang mungkin tiada lagi yang sanggup menggoreskannya suatu saat nanti
Jangan khawatir akan diriku
Sungguh aku akan menemukan pengobatnya untukku sendiri
Dan aku tahu orangnya bukanlah dirimu

Minggu, 02 Februari 2014

Perbincangan kecil

"Apakah kau masih memiliki seorang ibu?"
"Ya."
"Dimana beliau?"
"Di Malaysia."
"Apakah dia TKW?"
"Aku tidak tahu."
"Lalu bagaimana dengan ayahmu? Apakah dia masih ada?"
"Ya, tapi tidak bersamaku."
"Dimana?"
"Di sebuah daerah di provinsi ini."
"Mengapa kau tinggal disini? Mengapa tak ikut dengannya?"
"Aku tak tahu. Sejak kecil aku sudah ditaruh disini."

Lalu ia menahan sungai diujung matanya agar tak jatuh dipipi. Aku menangkap kesedihan itu. Perbincangan dengan gadis cantik nan pintar disebuah panti asuhan menyadarkanku bahwa kekuatan hakiki bukan berasal dari siapa yang mengajarkan kita, namun bagaimana diri kita sendiri mengajarkan diri ini untuk menjadi tegar. Walau kulihat, air matanya hampir saja jatuh namun tak akan ia biarkan air mata itu terjatuh sia-sia. Aku tak tega melanjutkan pertanyaan lagi. Seakan terhenti seketika. Padahal banyak sekali tanda tanya dalam fikiranku yang ingin kutanyakan, tapi yang pasti ia sendiri tak akan tahu mengapa dan bagaimana jawaban itu sendiri. Aku merasa iba, dimana letak hati kedua orang tuanya? Mengapa sampai hati sih membuangnya? Namun sesuatu yang membuatku terhentak sedemikian rupa adalah ketika aku bertanya dia mau melanjutkan sekolah kemana, dia menjawab sekolah ternama yang berisi orang pintar semua di kota ini. Subhanallah, mimpinya sangat tinggi. Tetapi tentu saja dibarengi dengan prestasinya disekolah. Semoga Allah selalu menyayangimu, gadis kecil. Kau tak akan mungkin Ia sia-siakan. Kau tiada berdosa. Tetaplah belajar! Kejar terus mimpimu. Hingga kedua orang tuamu sendiri yang akan menjemput dan mengakui bahwa kau adalah anak mereka. Percayalah, Allah Maha Adil dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bahkan dari seorang gadis kecil ini aku belajar banyak. Umurnya memang lebih kecil dariku. Tetapi kekuatannya kurasa jauh lebih hebat dariku.

Aku belajar banyak; terutama tentang keikhlasan dalam diri ketika memiliki kedua orang tua yang mungkin tak akan bisa menjadi sempurna
Aku belajar banyak; terutama tentang syukur dalam diri ketika semua yang kumiliki belum tentu dia miliki
Aku belajar banyak; terutama tentang kekuatan hati yang begitu tegar bak batu karang yang tak hancur dimakan ombak sekalipun
Aku belajar banyak; terutama tentang keberanian dia bermimpi tinggi dan caranya mewujudkannya

Minggu, 26 Januari 2014

"Nafsu adalah amanah. Dan amanah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak" - Ustadz Salim Afilah