Laman

Sabtu, 06 April 2013

Hujan dan teduh adalah kita

            Gemercik air hujan terasa di wajahku. Tahukah kamu apa yang membuatku begitu bersyukur setiap harinya? Alasannya begitu sederhana. Hujan dan teduh. Dan tahukah kamu mengapa aku memilih hujan dan teduh? Ada sebuah cerita dibalik hujan dan teduh yang tak akan terhapuskan oleh hujan badai sekali pun. Ia tak akan menjadi pasir dipesisir pantai. Tahukah kamu cerita antara hujan dan teduh? Mereka ditakdirkan bertemu tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Terlalu banyak ruang yang tertutup, tiada bisa kubuka. Karena hati sudah mereka-reka apa yang akan terjadi. Karena cinta semakin meraung-raung menagih haknya kepada pemilihnya. Dan kebersamaan hanya akan memperbanyak ruang tertutup.
            Tahukah kamu mengapa aku begitu menyukai hujan dan teduh? Karena aku selalu menganggap mereka sebagai kita. Walau ku tahu kita tak bersama didalam perjalanan, aku yakin kita akan bertemu. Kau tahu pasti kemana kau akan bermuara. Ya, jalan kita sudah bersimpangan. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dalam kejauhan dengan cinta yang malu-malu. 
           Tahukah kamu bagaimana rasa hati ini ketika kau banyak bercerita dan menyalahkanku dihari kemarin? Adalah gemuruh hujan yang sangat deras menghujam jantung ini. Bak badai tak mampu dihela lagi, aku ingin marah namun aku hanya bisa terdiam, terkunci dalam ketidak pastian. Apakah aku benar salah? 
          Kepadamu saat ini, aku masih ingat bagaimana terakhir kita berbincang. Tampak begitu singkat dan tidak jelas. Karena aku hanya mampu terkunci. Sekali lagi, terkunci dalam ketidak pastian. Kepadamu, aku cemburu dengan kata-kata mereka yang begitu mengagungkanmu dengannya. Dan dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu. 

"Dalam setiap tetes hujan yang Engkau berikan ini. Kuselipkan cerita indahku, dalam hening aku berdoa agar tercapai semua cita dan cinta yang menjadi impianku. Ku harap Kau melihat. Irhamna Ya Allah!" 

Mega Dita Agustin
06-04-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar