Aku terdiam. Tersentak dalam kebingungan yang sesungguhnya. Membawa lamunanku semakin jauh entah kemana. Menerawang masa depan dan menerjang semua bahagia.
Rasanya semua beban sedang berada di pundakku saat ini. Menjadi anak terakhir tidak selalu menyenangkan. Tapi bisa jadi kau harus minimal sejajar dengan kakak-kakakmu yang sudah bekerja. Atau lebih tinggi satu tingkat.
Entahlah, aku memang sedang berada dalam klimaks kebingungan. Puncak tertinggi dari segala kegalauan yang pernah kurasa. Menjadi dokter gigi? Ah, sangat ku inginkan! Semoga Tuhan mengabulkan tiap doa doaku dibawah tetesan hujan ini. Semoga juga langit membuka pintunya agar tersampaikan, pun malaikat-malaikatku meng-aamiin-kan tiap doa-doaku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah menaruh amanah. Ini bukan beban, anggap saja amanah. Bukankah begitu?
Ibu, bila kelak aku menjadi dokter gigi di masa depan. Izinkan aku membahagiakanmu di masa tuamu. Sungguh, hanya kaulah yang menguatkanku saat ini....
cause writing is the only way to make my self trust that i am stronger than ever
Laman
Jumat, 16 Januari 2015
Klimaks kebingungan
Senin, 29 Desember 2014
Rindu ayah
Lagi. Matahari merapat kembali ke ufuknya. Seakan mengalah dengan malam yang hendak muncul. Gemah adzan berkumandang. Magrib yang syahdu sudah datang rupanya. Lagi lagi rinduku mencuat sedemikian rupa. Menghabiskan semua energiku untuk bercerita pada-Nya. Merengek rengek untuk meminta agar dipertemukan dengan ayahku. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya disana. Mungkin beliau sedang sibuk bermesraan dengan Dia? Atau mungkin beliau sedang menatapku dari atas sana.
"Tiap memori bagai baru berselang. Gundah gulana sampai canda tawa. Kukira ingatan itu sudah hilang. Ternyata ia mengakar direlung jiwa...."
Barisan puisi diatas yang pertama kali kulihat disampul yasin ayahku. Aku tertunduk lemas. Mengingat semuanya yang pernah ia lakukan. Ayah, aku masih ingat sekali ketika aku masih sangat kecil. Kau meletakkanku diatas bahumu. Kau ayunkan badanku hingga aku tertawa lepas. Ayah, aku juga ingat ketika kau hendak bekerja keluar kota, aku merengek memelukmu agar kau tetap disini. Namun kau selalu berhasil membujukku. Ayah, aku ingat sekali ketika aku beranjak remaja. Kau sangat khawatir bahwa aku akan menemukan lelaki yang lebih segalanya darimu. Ayah, aku ingat ketika aku mengikuti pesantren kilat disekolahku dan satu hari menginap. Kau menjemputku lalu memelukku didepan orang ramai. Kau bilang rumah sepi tanpaku. Kau bilang kau kesepian tanpaku. Kau bilang kau rindu aku. Ayah, aku juga ingat waktu aku ikut wisata ruhiyah dari sekolahku. Kau menatapku lalu menangis ketika aku melambaikan tangan dari bus. Ayah, aku ingat kado terakhir yang kau berikan padaku ketika aku baru memakai jilbab. Kau bilang kado itu tak seberapa, namun rasanya sangat berbeda. Ayah, ada banyak sekali memori indah yang kau ukir dalam relung hatiku. Bahkan tak bisa ku jelaskan satu satu.
Ayah, bila suatu saat aku menemukan lelaki sepertimu. Izinkan aku untuk mencintainya. Izinkan aku untuk hidup bersamanya. Kan ku buktikan padamu, bahwa anakmu sudah didalam tangan lelaki yang aman. Lelaki yang kau tunjukkan caranya untuk menjadimu. Tetapi percayalah, dengan siapapun aku hidup kelak. Kau akan tetap menjadi lelaki terhebat sepanjang hidupku. Kau akan tetap dihati ini. Aku berjanji, ayah....
Selasa, 09 Desember 2014
Untuk kalian
Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah jatuh. Aku bahkan berjalan kesini dengan penuh lumuran darah dan terseok-seok.
Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah menyapu bersih lantai yg kotor itu. Aku bahkan pernah melalap habis semua sampah yg berserakan itu.
Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah sedih. Namun, aku berdiri disini hanyalah untuk dua orang malaikat dalam hidupku. Untukmu ibu dan untukmu ayah.
drg. Mega Dita Agustin
10 tahun yg akan datang
Minggu, 07 Desember 2014
Surat untuk ayah
Mentari menenggelamkan wajahnya yang telah lelah bersinar seharian. Petang berganti malam. Sinar berganti gelap. Hanya lampu lampu kecil jalan yang menghiasi malam.
Masih sama. Aku berkecamuk dalam rindu yang tak bertepi dan sepi yang menjadi-jadi. Bahkan dikeramaian ini. Aku hanya mengurung hati.
Ayah, sedang apa disana?
Setiap kali aku ingin memejamkan mata di malam hari. Yang kudoakan hanyalah namamu. Biarlah, biarlah sayang ini kutitip pada-Nya. Biarlah, biarlah rindu ini agar disampaikan oleh-Nya.
Ayah, bisakah sejenak kau menghampiri mimpiku? Hanya untuk memberi peluk hangatmu itu. Ayah, tahukah kau apa yang paling menyiksa di dunia ini? Adalah rindu yang tidak tersampaikan.
Salam rindu,
Ur lovely daughter...
Rabu, 19 November 2014
Rabu, 24 September 2014
Dia telah kembali pada-Nya
Selasa, 01 April 2014
Titik
Sudah berapa juta detik kuhabiskan hanya untuk menunggu yang menyakitkan
Memang benar, terasa sangat hampa....
Apalagi ketika kau tahu bahwa yang kau tunggu tidaklah menunggumu jua
Pun yang kau rindu-rindu tidak merindumu jua
Aku terdiam. Tersandar lemas di dinding kamarku.
Mengusap air mata yang mengalir begitu derasnya
Setelah sekian lama, aku hanya bisa menahan sungai di ujung mata ini
Ingin kumaki diriku dan dirimu!
Terlalu bodoh terpaku dalam waktu
Waktu yang tak pernah habis walau ditunggu-tunggu
Kau tahu?
Semalam adalah malam pemberhentianku menunggu
Malam yang tiada lagi koma didalamnya
Yang hanya ada titik dan tak ada tanda lainnya
Malam yang begitu menghancur leburkan hatiku
Yang didalam benakku hanya ada maki dan cemooh diri
Aku ingin melupakanmu sesederhana titik dalam akhir tulisan
Yang tiada lagi koma, ataupun tanda lainnya
Habis oleh titik
Selesai sampai disitu saja
Tidak berlanjut lagi
Suatu saat nanti, ketika kau membutuhkanku
Mungkin aku tak lagi dihadapanmu
Tiada lagi yang menunggumu seperti biasanya
Yang selalu bertanya apa kabarmu
Yang selalu mendoakanmu diam-diam
Yang selalu cemas akan hidupmu disana
Terima kasih telah menggoreskan luka dihatiku
Yang mungkin tiada lagi yang sanggup menggoreskannya suatu saat nanti
Jangan khawatir akan diriku
Sungguh aku akan menemukan pengobatnya untukku sendiri
Dan aku tahu orangnya bukanlah dirimu