Laman

Jumat, 16 Januari 2015

Klimaks kebingungan

    Aku terdiam. Tersentak dalam kebingungan yang sesungguhnya. Membawa lamunanku semakin jauh entah kemana. Menerawang masa depan dan menerjang semua bahagia.
   Rasanya semua beban sedang berada di pundakku saat ini. Menjadi anak terakhir tidak selalu menyenangkan. Tapi bisa jadi kau harus minimal sejajar dengan kakak-kakakmu yang sudah bekerja. Atau lebih tinggi satu tingkat.
   Entahlah, aku memang sedang berada dalam klimaks kebingungan. Puncak tertinggi dari segala kegalauan yang pernah kurasa. Menjadi dokter gigi? Ah, sangat ku inginkan! Semoga Tuhan mengabulkan tiap doa doaku dibawah tetesan hujan ini. Semoga juga langit membuka pintunya agar tersampaikan, pun malaikat-malaikatku meng-aamiin-kan tiap doa-doaku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah menaruh amanah. Ini bukan beban, anggap saja amanah. Bukankah begitu?
    Ibu, bila kelak aku menjadi dokter gigi di masa depan. Izinkan aku membahagiakanmu di masa tuamu. Sungguh, hanya kaulah yang menguatkanku saat ini....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar