Namun seiring berjalannya waktu, satu atau dua hari aku mengikuti mentoring. Ku dengarkan mereka berbicara dengan indah dan fasihnya, melantunkan kata-kata islami nan indah. Dan entah, suatu ketika hatiku tergetar, aku merasa begitu banyak kesalahan terhadap-Nya. Aku melalaikannya, aku sering berkata tak baik, aku tak pernah menutup auratku, bahkan aku teringat ketika aku masih SMP. Waktu itu hari jumat, hari dimana diwajibkan bagi setiap sekolah negeri memakai baju muslim dan yang wanita memakai jilbab, tentunya di sekolahku juga, namun ketika sudah waktunya bel pulang aku melepasnya, aku merasa gerah memakai itu dan aku merasa aku lebih jelek memakainya. Lalu seorang guru agam datang padaku, dia memarahiku habis habisan, aku dicubit, namun aku seperti tanpa dosa, aku hanya tersenyum lalu menjauhinya. Astagfirullah, aku tak ingin lagi seperti itu.
Aku pulang. Ku cubiti pipiku, ku tampar mukaku, dan ku lihat pada cermin seraya bertanya pada diriku sendiri "INIKAH AKU SEBENARNYA? PENUH DOSA!!!" ketika solat aku menangis, mohon ampun atas segala yang ku lakukan selama ini, aku tahu Allah maha pengampun. Ku lengkapi solat demi solat, aku pun senantiasa membaca Al-Qur'an yang begitu indah itu. Namun semuanya masih belum sama sekali mengobati penyesalanku, ku telaah lagi, alangkah baiknya Allah memberiku kesempatan untuk bertaubat. Bagaimana jika aku sudah meninggal kemarin? Tanpa ada taubat. Aku rasa 1000000000x aku akan menyesal hidup dalam sia-sia.
Hari pertama itu aku mulai memantaskan diri dengan kerudungku, kerudung pertama yang ku pakai adalah kerudung berwarna biru dengan motif yang biasa saja. Aku tidak merasa begitu cantik, tetapi aku merasa sederhana dan dihargai sebagai seorang wanita. Aku merasa inilah yang aku cari selama ini. Menjadi wanita yang seutuhnya tanpa ada paksaan dari siapapun. Lalu aku senang mencari tentang apa yang belum ku pelajari tentang jilbab dan aku senang mempost nya di twitterku. Namun semua orang mengiraku sebagai "Pencitraan" padahal DEMI ALLAH niatku hanyalah ingin berbagi, bukan untuk menjadi lebih baik dimata mereka, namun dimata Allah. Mereka mengejekku tak pantas, munafik, dan lain-lain. Ya wajar saja, baru saja pertama kali aku memakai jilbab, tetapi di twitterku seperti orang yang sudah tahu fasih tentang islam. Aku masih merasa wajar sampai saat itu.
Sampai suatu ketika, handphone ku bergetar, seseorang memberi tahu padaku bahwa senior disekolah tidak ada yang menyukaiku, bahkan mereka mengejekku didepannya. Hari itu hari pertama aku meneteskan air mata ketika aku telah menjadi aku yang baru, aku terisak tanpa ingin ibuku melihat semua itu, aku berlari ke kamarku lalu menangis sekuat-kuatnya. Aku bertanya dalam hati "Apakah aku begitu buruk dimata mereka? Apakah aku pernah berbuat salah pada mereka yang sebelumnya aku tak pernah kenal sama sekali? Entahlah" sampai pukul 00.00 layaknya seseorang ABG biasa, aku mempost setiap keluhanku dalam twitterku, aku bingung harus cerita pada siapa, tiada teman yang ku dapati begitu baik saat itu. Aku hanya bisa diam diam dan muhasabah dalam diriku. Aku mencari dimana letak kesalahanku pada mereka.
Seiring berjalannya waktu, hujatan demi hujatan datang lagi. Ketika pesantren ramadhan aku dijadikan ketua kelompok, seorang mengatakan bahwa yang menjadi ketua kelompok saat itu adalah yang namanya di blacklist oleh senior-senior. Aku tersentak lagi. Aku mendapati ilmu tentang dakwah dan ternyata manusia itu bisa berdakwah dengan segala cara yang baik, bil haq, bil qalam, dan bil lisan. Tersirat difikiranku untuk bil qalam dalam akun yang aku punya, di twitter aku sering mempost apa yang telah aku dapat hari itu, namun ku dapati lagi hujatan tentang bahwa aku hanyalah ingin terlihat baik di depan mereka. Untuk kesekian kalinya aku menangis sampai mataku sembab dan ketika aku bangun tidur mataku terasa begitu sakit. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, sampai akhirnya ku temui lagi hujatan itu, hujatan yang begitu sakit ku dapatkan. Namun kudapati lagi seseorang berkata padaku "La tahzan, innallaha ma'ana" yang artinya "Jangan bersedih, Allah bersama kita" Aku tersenyum dan merasa begitu kuat. Subhanallah, aku selalu ingat kata itu ketika aku menangis, dan alasan aku berhenti menangis adalah kata-kata itu. Entahlah, sampai dimana hujatan ini akan berakhir. Aku lelah menangis di setiap malam, namun satu yang pasti, aku tak pernah lelah untuk mendoakan mereka dalam solatku, aku tak pernah meminta mereka untuk husnudzon padaku, tetapi setidaknya aku meminta agar tidak ada lagi su'udzon pada diri mereka.

Pertama kali kakak memutuskan untuk menutup aurat juga gitu dek :) terlalu banyak hinaan, cacian yang dilontarkan sama kakak :)
BalasHapus