Setiap wanita mendambakan lelaki tampan nan soleh
Datang dan memberinya setangkai bunga mawar yang indah
Memimpinnya dalam sholatnya
Menuntunnya kejalan Allah
"Aku ingin memilikimu hari ini, esok dan seterusnya, humairah" lalu aku tersenyum dan menangis. Subhanallah, kata yang ia ucapkan begitu indah nan suci. Aku merasa sempurna ketika memilikinya. Hari hari ku sungguh begitu indah ku jalani bersamanya. Cinta yang ia berikan layaknya tak akan pernah hilang, ia menuntunku untuk selalu berjalan di jalan Allah, begitu tawadhunya dalam mencintai dan membimbingku. Ketika ku salah, ia membenarkannya. Kala aku gundah, dia mencari tawa itu kembali.
Namun suatu malam ku temui dia sedang terteguh dalam doanya, dia menangis meminta kepada Allah dalam tahajudnya, dalam doa yang penuh kekhusyukan "Ya Allah....... Izinkan aku mencintainya karena-Mu, sehingga rasa ini tak akan pernah berubah walaupun kami tak mendapatkan keturunan" aku terdiam, menelaah dan menangis. Ya Allah Ya Rabbi, kata-katanya benar, namun ini yang membuatku berfikir 100x lagi untuk tumbuh menua bersamanya. Aku merasa bersalah dan tak memberinya sedikitpun kebahagiaan ketika dia memberiku 1001 alasan untuk bahagia. Ya Allah Ya Rabbi, lalu harus bagaimana aku hidup dalam keadaan seperti ini?
Pagi hari, pipiku terasa basah, aku terbangun lalu melihat sosok seseorang lelaki didepanku. Ia berkata " Wahai humairah, aku sungguh mencintaimu karena Allah" aku kembali tersenyum mendengar perkataan itu kembali. Aku kira dia akan marah padaku setelah aku tidak memberinya keturunan selama 15 tahun kami menikah. Aku kira dia akan membenciku ketika aku tak bisa mendatangkan tawa dan tangisan seorang anak dari rahimku sendiri. Aku kira dia akan mentalakku seperti lelaki lainnya. Subhanallah, lalu aku terbangun dan duduk diatas ranjangku, dia lalu mengecup keningku dengan air mata yang banjir. Tanpa ku tanya mengapa, jawabannya telah ku ketahui semalam. Ketika dia bekerja, satu hal selalu terfikir dalam benakku adalah bagaimana ketika aku menua tanpa memberinya kebahagiaan sama sekali.
Hari demi hari kami lewati tanpa beban lagi, masih sama seperti hari yang lain, masih ada kata cinta yang terlontar, kecupan dikeningku dan belaian penyejuk itu. Namun suatu ketika, ketika rasa cinta itu bertambah besar, berkembang bagaikan bunga mawar tanpa duri lagi. Aku dan suamiku solat berjamaah seperti biasanya, begitu khusyuk, namun hari ini berbeda, sujud pada rakaat terakhir begitu lama, aku bertanya-tanya ada apa, aku terdiam lalu menutup solatku dengan sendirinya. Sedangkan dia masih dalam keadaan bersujud, lalu aku memandanginya, aku bertanya mengapa begitu lama, adakah namaku lagi dalam sujudnya? Atau dia menyesal menikahiku? Namun 15 menit telah berlalu, aku masih memandanginya, lalu aku memanggilnya "Abi, apa yang kau lakukan?" dia hanya terdiam dan masih bersujud. Lalu aku bertanya kembali "Abi, apa kau marah pada Allah dan aku?" dia masih dalam keadaan yang sama. Lalu aku melihat seluruh tubuhnya tidak lagi bergerak. Lalu kudekati dia, ku lihat tubuhnya sudah pucat dengan sajadah yang sudah basah. Ku balikkan badannya seperti normal lagi, yang ku dapati dia sudah kaku. Aku menangis terisak-isak dan mengecek adakah denyut nadinya lagi? Aku tak mendapati itu. Sampai aku putus asa, aku menelfon dokter dan ketika itu dokter mengatakan hal yang sama. YA ALLAH YA RABB!!!! Inikah caramu untuk memberhentikan cinta kami? Apakah ini karena ku tidak bisa memberinya kebahagiaan? Maafkan aku abi, aku tak pernah memberimu kebahagiaan ketika kau masih hidup. Aku malah selalu menyangka kau akan menikahi wanita lain yang bisa memberimu keturunan.
Ketika pemakaman, aku menangis tanpa henti, ada penyesalan ketika aku tak bisa memberinya kebahagiaan. Di detik terakhir dalam sujudnya pun aku menyangkal bahwa dia akan mengingat masalah itu kembali. Pemakaman telah sepi, hanya aku yang ada disana. Lalu ada angin kuat didepanku, ku dapati suamiku sedang tersenyum memakai baju kesayangannya, baju kokoh berwarna putih. Dia mengucapkan "Selamat tinggal humairah, calon bidadari surgaku, aku percaya kita akan bertemu di surga nanti. Tetaplah menjadi bidadari dunia yang indah nan harum seperti bunga mawar yang selalu ku berikan padamu. Akan ku nantikan ketika kita berkumpul lagi" Aku semakin heran terdiam, apakah ini halusinasiku? Atau aku sudah gila? Namun ini adanya. Satu hal yang ku dapati darinya : "Aku mungkin memiliki cintanya, dan seluruh hatinya. Namun aku tak akan pernah memiliki jalan hidupnya"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar