Laman

Senin, 19 Januari 2015

Si Bungsu

Anak terakhir? Ah, apakah yg tersirat dalam benak kalian saat ini adalah sifat manjanya? Atau selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya? Ya, mungkin terkadang anggapan itu benar. Ayah saya memang sangat memanjakan saya, bahkan ketika dulu saya masih SD dan malas untuk bangun pagi. Ayah saya membangunkan saya dengan kecupan dipipi saya dan menggendong saya sampai saya terbangun dan tiba tiba berada tepat di depan kamar mandi. Lagi lagi saya terkecoh, ayah, kau selalu berhasil ya! Tak beda dengan ayah, ibu juga sangat memanjakanku. Buktinya ibu selalu membuatku teh hangat ketika pagi hari. Sarapannya juga tak lupa. Bahkan kurang kurang ibu menyiapkan bekalku untuk ke sekolah. Ah, jasa kalian sekecil itupun sulit kulupakan rasanya.... Dan masih banyak sekali kemanjaanku yang lainnya.

Tapi, tahukah kalian? Bahwa kemanjaan anak bungsu hanyalah bersifat sementara. Percayalah, ketika sang anak berumur 16 tahun ke atas. Waktunya dia berfikir bahwa anak bungsulah yang harus minimal sejajar dengan kakak-kakaknya. Belum lagi, karena umur ibu yang sudah renta. Takkan sanggup meninggalkan ibu sendiri di rumah tercinta ini. Karena aku dan ibu tinggal berdua dirumah sekarang. Tanpa ayah kami. Yah, lagi lagi ayah. Memang sering membuat rindu si ayah. Hehehe. Kau tahu? Anak bungsu itu banyak juga tak enaknya. Misalnya ketika ibu sakit. Kau yang pulang sekolah harus rela menyisihkan waktumu hanya sekedar untuk masak makanan bagi kalian berdua. Lebih dari itu, mencuci pakaian, menjemurnya sambil diselingi dengan belajar itu tidak mudah. Percayalah, aku sangat kewalahan dengan semua itu.

Namun, percayakah kau pada takdir-Nya? Tahu mengapa Allah menjadikan aku sebagai anak bungsu? Adalah karena Allah mempercayai orang tuaku menua bersamaku. Karena Allah begitu mencintai hamba-Nya yang taat lagi mencintai orang tuanya. Ah, semoga saja. Doakan aku tak pernah mengeluh akan semua ini. Doakan juga ibuku dan aku sehat-sehat saja. Aamiin...

Minggu, 18 Januari 2015

Entah

Ada air yang turun dari atas langit. Pun bersamaan dengan air yang keluar dari ujung ujung sungai mataku. Tak terbendung lagi. Hanya dekapmu yang kuharap mampu menghangatkan.

Ada seekor rayap berbisik. Mengejek sepi seolah ia tak sendiri. Padahal teman sejatinya adalah sepi. Lalu mengapa harus mengutuki?

Ada sebuah harap yang tertahan di langit langit kamarku. Bahwa mimpi adalah suatu hal yang harus diperjuangkan dalam hidup. Bahwa mimpi itu harga mati yang akan dibayar.

Ada sebuah doa yang tergantung di sisi sisi kamar. Tak terlihat. Sama membingungkan dengan yang lainnya. Sama saja. Aku hanya tidak tahu apa yang harus ku doakan.

Ada sebuah kebingungan yang menjerit dari balik tembok. Dan hanya keluh lidah yang diam dapat memilih. Walau sampai saat ini tiada kata yang bisa terucap.

Jumat, 16 Januari 2015

Klimaks kebingungan

    Aku terdiam. Tersentak dalam kebingungan yang sesungguhnya. Membawa lamunanku semakin jauh entah kemana. Menerawang masa depan dan menerjang semua bahagia.
   Rasanya semua beban sedang berada di pundakku saat ini. Menjadi anak terakhir tidak selalu menyenangkan. Tapi bisa jadi kau harus minimal sejajar dengan kakak-kakakmu yang sudah bekerja. Atau lebih tinggi satu tingkat.
   Entahlah, aku memang sedang berada dalam klimaks kebingungan. Puncak tertinggi dari segala kegalauan yang pernah kurasa. Menjadi dokter gigi? Ah, sangat ku inginkan! Semoga Tuhan mengabulkan tiap doa doaku dibawah tetesan hujan ini. Semoga juga langit membuka pintunya agar tersampaikan, pun malaikat-malaikatku meng-aamiin-kan tiap doa-doaku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah menaruh amanah. Ini bukan beban, anggap saja amanah. Bukankah begitu?
    Ibu, bila kelak aku menjadi dokter gigi di masa depan. Izinkan aku membahagiakanmu di masa tuamu. Sungguh, hanya kaulah yang menguatkanku saat ini....

Senin, 29 Desember 2014

Rindu ayah

Lagi. Matahari merapat kembali ke ufuknya. Seakan mengalah dengan malam yang hendak muncul. Gemah adzan berkumandang. Magrib yang syahdu sudah datang rupanya. Lagi lagi rinduku mencuat sedemikian rupa. Menghabiskan semua energiku untuk bercerita pada-Nya. Merengek rengek untuk meminta agar dipertemukan dengan ayahku. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya disana. Mungkin beliau sedang sibuk bermesraan dengan Dia? Atau mungkin beliau sedang menatapku dari atas sana.

"Tiap memori bagai baru berselang. Gundah gulana sampai canda tawa. Kukira ingatan itu sudah hilang. Ternyata ia mengakar direlung jiwa...."

Barisan puisi diatas yang pertama kali kulihat disampul yasin ayahku. Aku tertunduk lemas. Mengingat semuanya yang pernah ia lakukan. Ayah, aku masih ingat sekali ketika aku masih sangat kecil. Kau meletakkanku diatas bahumu. Kau ayunkan badanku hingga aku tertawa lepas. Ayah, aku juga ingat ketika kau hendak bekerja keluar kota, aku merengek memelukmu agar kau tetap disini. Namun kau selalu berhasil membujukku. Ayah, aku ingat sekali ketika aku beranjak remaja. Kau sangat khawatir bahwa aku akan menemukan lelaki yang lebih segalanya darimu. Ayah, aku ingat ketika aku mengikuti pesantren kilat disekolahku dan satu hari menginap. Kau menjemputku lalu memelukku didepan orang ramai. Kau bilang rumah sepi tanpaku. Kau bilang kau kesepian tanpaku. Kau bilang kau rindu aku. Ayah, aku juga ingat waktu aku ikut wisata ruhiyah dari sekolahku. Kau menatapku lalu menangis ketika aku melambaikan tangan dari bus. Ayah, aku ingat kado terakhir yang kau berikan padaku ketika aku baru memakai jilbab. Kau bilang kado itu tak seberapa, namun rasanya sangat berbeda. Ayah, ada banyak sekali memori indah yang kau ukir dalam relung hatiku. Bahkan tak bisa ku jelaskan satu satu.

Ayah, bila suatu saat aku menemukan lelaki sepertimu. Izinkan aku untuk mencintainya. Izinkan aku untuk hidup bersamanya. Kan ku buktikan padamu, bahwa anakmu sudah didalam tangan lelaki yang aman. Lelaki yang kau tunjukkan caranya untuk menjadimu. Tetapi percayalah, dengan siapapun aku hidup kelak. Kau akan tetap menjadi lelaki terhebat sepanjang hidupku. Kau akan tetap dihati ini. Aku berjanji, ayah....

Selasa, 09 Desember 2014

Untuk kalian

Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah jatuh. Aku bahkan berjalan kesini dengan penuh lumuran darah dan terseok-seok.

Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah menyapu bersih lantai yg kotor itu. Aku bahkan pernah melalap habis semua sampah yg berserakan itu.

Aku berdiri tegak disini. Bukan berarti aku tak pernah sedih. Namun, aku berdiri disini hanyalah untuk dua orang malaikat dalam hidupku. Untukmu ibu dan untukmu ayah.

                           drg. Mega Dita Agustin
                          10 tahun yg akan datang

Minggu, 07 Desember 2014

Surat untuk ayah

    Mentari menenggelamkan wajahnya yang telah lelah bersinar seharian. Petang berganti malam. Sinar berganti gelap. Hanya lampu lampu kecil jalan yang menghiasi malam.
    Masih sama. Aku berkecamuk dalam rindu yang tak bertepi dan sepi yang menjadi-jadi. Bahkan dikeramaian ini. Aku hanya mengurung hati.
   Ayah, sedang apa disana?
   Setiap kali aku ingin memejamkan mata di malam hari. Yang kudoakan hanyalah namamu. Biarlah, biarlah sayang ini kutitip pada-Nya. Biarlah, biarlah rindu ini agar disampaikan oleh-Nya.
    Ayah, bisakah sejenak kau menghampiri mimpiku? Hanya untuk memberi peluk hangatmu itu. Ayah, tahukah kau apa yang paling menyiksa di dunia ini? Adalah rindu yang tidak tersampaikan.
    Salam rindu,
    Ur lovely daughter...

Rabu, 19 November 2014

                              "Jadilah engkau seperti akar; yang dalam diamnya, ternyata bekerja 
sekuat tenaga untuk mencari air yang jauh demi pohonnya tumbuh subur. Dan ketika pohon sudah tumbuh dengan begitu cantik, ia tetap bersembunyi tanpa melihatkan keangkuhannya."