Laman

Minggu, 18 Januari 2015

Entah

Ada air yang turun dari atas langit. Pun bersamaan dengan air yang keluar dari ujung ujung sungai mataku. Tak terbendung lagi. Hanya dekapmu yang kuharap mampu menghangatkan.

Ada seekor rayap berbisik. Mengejek sepi seolah ia tak sendiri. Padahal teman sejatinya adalah sepi. Lalu mengapa harus mengutuki?

Ada sebuah harap yang tertahan di langit langit kamarku. Bahwa mimpi adalah suatu hal yang harus diperjuangkan dalam hidup. Bahwa mimpi itu harga mati yang akan dibayar.

Ada sebuah doa yang tergantung di sisi sisi kamar. Tak terlihat. Sama membingungkan dengan yang lainnya. Sama saja. Aku hanya tidak tahu apa yang harus ku doakan.

Ada sebuah kebingungan yang menjerit dari balik tembok. Dan hanya keluh lidah yang diam dapat memilih. Walau sampai saat ini tiada kata yang bisa terucap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar