Aku takkan bisa lagi tertawa
Mulutku tak dapat lagi berbicara
Tangan kaki ku kaku tanpa bisa digerakkan sama sekali
Suatu saat nanti
Semua orang menangis terisak melepas kepergianku
Namun tak bisa mengembalikanku
Suatu saat nanti
Semua orang beranjak meninggalkanku dari tempatku dikubur
Disana, sendiri terbatah-batah menjawab pertanyaan munkar-nakir
Suatu saat nanti
Akan ada penyesalan mengapa aku tak berlaku baik di dunia
Namun tiada berarti disisi Rabbku........
Puisi di atas sepenggal apa yang akan terjadi pada kita, mengingatkan bahwa dunia sangatlah fana. Dunia hanyalah senda gurau, namun Allah sediakan ladang tabungan kita untuk akhirat. Aku pernah mendengarkan seseorang berkata, "Tahukah kamu apa saja 7 keajaiban dunia?" dan aku spontan menjawab "komodo, borobudur, taj mahal, tembok besar cina, menara pisa, dan lain-lain" lalu dia langsung tersenyum simpul, ia tidak mematahkanku saat itu juga. Lalu dia tertawa geli. Aku menatapnya sinis. Merasa begitu goblok dimatanya. Aku bertanya padanya, "Mengapa kau tertawa? Apakah sudah diganti?". Dia hanya tersenyum. Seketika kami tanpa sepatah kata, berputar arah tanpa melihat satu-sama lain. Dia melanjutkan, "Kau lihat, mulut ini berbicara, tangan ini bergerak, kaki ini melangkah, hidung ini bernafas, mata ini melihat, jantung ini berdenyut, dan otak ini berfikir. Sungguh, itulah 7 keajaiban dunia. Maka nikmat Tuhan-mu yang mana yang kamu dustakan?". Aku masih terdiam, namun diam kali ini karena aku berfikir. Aku memutar badanku kembali, ia pun melakukannya. Lalu aku tersenyum, takjub dengan yang dia katakan. Sederhananya, perkataanya yang seperti itulah mengingatkanku bahwa semua yang ada di bumi ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah dari-Nya. Bagaimana jika Dia mengambil salah satu dari nikmat itu? Naudzubillahimindzalik. Aku menarik nafasku pelan, nikmatnya masih sangat bisa kurasakan. Aku menatap sekelilingku, subhanallah semuanya begitu indah. Aku menggerakan tanganku, aku rasakan detak jantungku, aku memikirkan masa depanku, dan aku berjalan menuju-Nya. Subhanallah, bahkan ini jauh lebih indah daripada apapun.
Ada sebuah kisah, ada seorang gadis berusia 28 tahun yang mendatangi suatu pondok pesantren, dia terlihat bukan seperti gadis biasanya, dia berjalan dengan tongkat di tangan kanannya dan kacamata hitamnya. Tidak, ini bukan karena fashion. Ini karena dia tak mampu melihat dan dia malu. Diketuknya pintu gedung itu, "assalamu'alaikum" katanya dengan perlahan. Lalu seorang ustadz datang menyambutnya, "wa'alaikummussalam. silahkan masuk! ada apa teh?". Duduklah ia dibantu oleh saudaranya yang menemaninya itu, "Ustadz..... ustadz tau mengapa saya memakai kacamata hitam dan tongkat ustadz? ustadz, umur saya masih 28 tahun ustadz, saya merupakan anak orang yang mempunyai banyak aset dan uang. ayah saya mempunyai kapal pesiar ustadz. namun saya buta ustadz, saya butaaaa!!! Ini bukan dari lahir ustadz, ini baru terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Waktu itu saya sakit, dan saya dibawa ke rumah sakit. Saya diberi obat, setelah itu saya tertidur. Ketika bangun semuanya sudah gelap, ibu dan ayah saya disamping saya, namun saya tak dapat melihatnya. Ayah saya menyuruh saya tidur lagi, barangkali saya masih lelah. Dan tidurlah lagi saya, ternyata ketika bangun masih sama. Ustadz, saya butaaaa! Saya sudah mencari orang yang mau mendonorkan matanya untuk saya, barangsiapa yang mau maka ayah saya akan memberikan seluruh asetnya, seluruh asetnya kepada orang tersebut. Namun, sudah 3 tahun. Masih belum ada ustadz, saya frustasi ustadz" ia terus meneteskan air matanya tanpa henti.
Ibrah yang dapat diambil adalah janganlah kita sia-siakan apa yang sudah Allah berikan, nikmati dan syukuri kalau bisa dijaga. Hingga ketika Allah mengambilnya, kita sudah benar-benar merasa puas. Setidaknya kita sudah menjalankan yang terbaik. Ingatlah miskin ketika kaya, ingatlah sakit ketika sehat, ingatlah mati ketika hidup. Sungguh, di dalam kubur hanyalah sendiri. Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, maka amal yang akan menjawab pertanyaan munkar-nakir tanpa terbatah-batah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar