Laman

Senin, 25 November 2013

Segelas teh hangat

            "TANDU!!!! MANA TANDU? ADA SESEORANG PINGSAN DI LAPANGAN!" seru suara menderu. Membuat sekolah seketika ramai mendatangi lapangan. Burung-burung pun berterbangan ketakutan. Hewan-hewan berlari saking gaduhnya. Siapa yang pingsan? Kenapa dia sampai bisa pingsan? Ah, ternyata dia! Sialnya dia! Seseorang yang apabila aku bertemu dengannya maka mukaku memerah dan jantungku berdebar sangat kencang. Tidak, itu bukan sesuatu kebetulan yang indah. Aku bingung. Aku hanya menggeletakkan tandu didepan tubuhnya, ia tergulai lemas. Aku sangat tak tega. Mana mungkin pula aku mengangkatnya. Semua orang mengangkatnya ke UKS. Aku sangat cemas. Namun tak berani juga untuk menyadarkannya. Sesekali kulihat mukanya. Berlari. Mengambil segelas teh hangat. Mencari minyak kayu putih. Terbirit-birit. Ku lihat lagi mukanya. Akhirnya! Aku berani mendatangi tubuhnya. Semua orang tidak ada yang tahu bahwa aku memendam rasa padanya. Namun, seketika apa yang aku takutkan itu menjadi kenyataan. Dia terbangun ketika aku berada disampingnya. Ah, kacau! Jantungku berdebar semakin kencang. Aku bertanya, "Kau sudah bangun?" pertanyaan basa-basi yang seharusnya tak ku tanyakan. Tentulah ia sudah bangun. Bodoh! Dia hanya tersenyum. Entah kenapa.
                "Ini segelas teh untukmu, Tuan!" aku memecahkan kecanggungan. Saat hanya ada kami berdua diruangan 10x8 itu. Aku hampir kehilangan semua kata-kata. Ia berterima kasih. Menatap lamat-lamat mukaku sambil tersenyum. Tentu saja aku tak berani menatapnya. Tidak juga berani mengatakan apa-apa lagi. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Satu menit. Sampai tidak ada percakapan sama sekali. Aku rasa aku harus pergi. Padahal dalam hati aku terlalu takut untuk memulai lagi percakapan. Hatiku bak gemuruh ombak yang begitu hebat saat dia tersenyum sambil menjawab pertanyaanku. Aku membalikkan badanku. Pergi menjauh ke arahnya. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Sampai langkah ke-empat! Ya, tepat sekali dia memanggil namaku, untuk yang pertama kalinya, aku terdiam. Tak menoleh sekalipun. Aku ternganga. Mengapa dia tahu namaku? Sejak kapan? Apakah aku selalu disebut-sebut oleh teman-temannya? Atau apa? Ah, entahlah. Aku menoleh sejenak, lalu berkata, "Apa lagi yang perlu kubantu?" aku bersikap secuek mungkin. Agar tak ketahuan bahwa aku sebenarnya memiliki rasa padanya. Lagi-lagi dia tersenyum. Dia beranjak dari tempat tidurnya, mendekatiku. Ya, tepat sekali disebelah punggung kananku. Ya Tuhan, jantungku..... jantungku rasanya mau copot saat itu juga. "Terima kasih untuk tehnya, enak sekali. Teh termanis yang pernah aku rasakan. Karena pemanisnya adalah semburat senyuman di wajahmu. Teh terhangat yang pernah aku rasakan. Karena penghangatnya adalah kasihmu saat kau membangunkanku tadi." Ya Tuhan! Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Tak juga menatapnya. Aku ingin menangis. Dia adalah orang yang mirip sekali dengan masa laluku, persis muka dan caranya berjalan serta menatapku. Persis sekali. Asal sekolah dan yang lainnya. Hanya saja, ulang tahunnya berbeda satu hari. Hanya satu hari. Tetapi sangat mirip seperti dua orang kembaran. Aku masih diam. Larut dengan kenangan masa lalu yang seperti hadir lagi dalam hidupku. Masa lalu yang seperti hidup lagi. Aku menggeleng. Tak apa-apa. Sebenarnya ini tugasku! Dia tampak sangat kebingungan mau berkata apalagi. Aku juga sama. Kami terdiam dalam berapa waktu. "Kau suka kucing?" aku mengangguk. "Sama, aku juga menyukainya, bukankah itu sangat lucu? Aku senang sekali memainkan bulu-bulunya. Sangat lembut. Suaranya juga lucu, apalagi yang masih bayi!" dia memecah keheningan itu. Dia seakan tahu semuanya tentangku. Aku tertawa kecil. Sungguh, dia mirip sekali dengan masa laluku.
              Selama ini aku diam, diam selama setahun. Ya, s-e-t-a-h-u-n dan tak pernah penat dengan perasaan dan orang yang itu itu saja! Memang wanita, apabila sudah jatuh cinta sulit untuk bangun lagi. Hffft... Aku terdiam di depan pintu ruangan pengap itu. Tentu saja tidak ada pendingin ruangan. Itu kan untuk orang sakit. Aku menghela nafas. Dan tiba-tiba dia mendatangiku, "Aku mencintaimu..." Hah? Apa katamu? Cinta? Apa itu cinta? Aku tak mengenalnya sejak dia pergi. Tak lagi untuk siapapun rasanya. Tapi kehadiranmu, sungguh seperti menghidupkan kembali rasa itu. Kau hadir lagi, Tuan! Kau bak air yang menyiram dedaunan dan bebungaan yang layu itu! Kau disini lagi, Tuan! Seakan memberi kabar baik pada seisi dunia, terutama aku. Aku tak mudah mengatakan rasa itu, maka aku hanya terdiam. Tiba-tiba aku berlari menuju lantai tiga kelasku. Begitu cepat langkah kaki itu. Semakin salah tingkah. Kutinggalkan dia sendirian disana. Maaf, Tuan! Hatiku bukan untukmu. Namun, baru sampai aku di anak tangga ke delapan lantai dua. Aku tersandung oleh anak tangga itu. GDBUKKK!!!!! Jatuh tanpa ampun. Sakit sekali! Seiring dengan terjatuhnya aku juga dari tempat tidur. Sialan! Itu hanya mimpi. Mimpi indah yang setidaknya membangunkanku dari mimpi buruk...... Mimpi buruk? Ah tidak juga bisa dibilang begitu. Yang jelas, saat bangun tidur badanku sakit sekali. Sudah lama aku mimpi jatuh tetapi tidak jatuh dari ranjang. Yang jelas, saat bangun tidur perasaanku sungguh berbunga-bunga.
              Hai, Tuan! Kau hadir lagi disini. 
              Walau hanya dalam kembang mimpi.
              Walau hanya figuramu yang tercermin disini.
              Aku merindukan engkau!
              Sungguh merindu.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar