Hujan menderai pelupuk kota siang ini. Sungguh aku menyukainya. Wangi lembab yang menghantui sepanjang perjalanan di kota. Jalanan yang basah dipenuhi nikmat dari-Nya. Hujan? Ah, rasanya sangat menarik untuk diperbincangkan. Bahkan untuk dirasakan. Sangaaaat bermakna. Apalagi ketika hujan meresonsinasikan masa lalu yang indah. Masa lalu yang hanya untuk dikenang, bukan untuk ditangisi. Sekali lagi, bukan untuk ditangisi. Dan hujan juga membuatku bersyukur akan kehadiran orang-orang yang melukis memori didalam kehidupanku. Sesekali menyakitkan. Sesekali menyenangkan. Manusia diciptakan karena berbagai macam alasan, ada yang diciptakan untuk membahagiakan, ada pula yang untuk menguji kesabaran. Oh ya, kau tahu apalagi yang membuatku menyukai hujan? Karena aku bisa melukis embun dimanapun dia berada. Itu menyenangkan sekali. Sama menyenangkannya dengan ketika aku bersama dengan orang-orang terkasih.
Sebut saja namanya embun. Lucu ya? Ya, karena ketika melihatnya hatiku terasa ditetesi oleh sejuta embun. Basah tanpa ampun. Sejuk menderai derai. Apalagi ketika siang itu. Aku tak tahu mengapa aku merasa berbeda sekali. Dia juga tampaknya sangat berbeda. Matanya memandangiku sangat lama. Aku hanya tertunduk. Mencari tahu apa yang sebenarnya dia fikirkan. Selama ini? Bukankah dia selalu berlaku yang sama. Memulai sepotong pembicaraan yang tampaknya basa-basi. Kalau kata orang sih, just making conversation. Mata itu redup sekali hari ini. Aku biasa-biasa saja. Tak diam. Tak juga terlalu berisik. Aku takut dibilang salah tingkah, takut juga dibilang terlalu kalem. Jadi biasa-biasa saja.
Hey kau tahu? Kau selalu datang dalam mimpi-mimpiku terakhir ini. Sebenarnya mimpi yang tidak pernah aku fikirkan sebelumnya. Mimpi yang tak ku impi-impikan. Siapa kau? Ngobrol saja paling banyak cuma 3 kali. Tahu sifatmu bagaimana saja tidak. Lantas mengapa terlalu sering datang dalam mimpi-mimpiku? Suka? Ah, sangat jauh rasanya dari rasa itu. Yang jelas aku bahagia saat kali berbicara denganmu. Walau basa-basi yang sangat basi. Cinta apalagi. Mana mungkin.
Kenapa? Ada apa sebenarnya? Apakah Tuhan sedang memainkan teka-teki takdir-Nya? Ataukah namamu dan namaku sebenarnya disandingkan di Lauhul Mahfudz? Biarlah, biarkanlah teka-teki ini begini. Tak usah dipahami. Agar kelak menjadi bahagia untuk esok hari. Biarlah, biarkanlah aku simpan dalam-dalam rasa dihatiku apabila memang ini yang dinamakan cinta. Tak usah dirasakan lagi. Agar kelak menjadi kejutan untuk esok hari. Biarlah, biarkanlah aku menapaki jalanku dengan tujuan yang lurus-lurus saja. Agar esok hari tak celaka....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar