Laman

Selasa, 26 November 2013

Tarian kunang-kunang

         SABTU MALAM- Kota ini sangat ramai. Sama ramainya dengan pasar ketika subuh mulai menjelang. Ada yang sibuk pulang dari perkerjaannya, ada juga yang berdiam diri di rumah, ada yang berkeliling-keliling kota dengan keluarga mereka, bahkan ada yang memaknainya dengan hari kebersamaan dengan yang terkasih. Ah, sejak kapan mulanya sabtu malam disebut malam minggu yang harus dihabiskan dengan berpacaran? Aku tak mengerti, sama sekali belum mengerti. Malam yang sangat ramai diluar sana. Yang didalam rumah hanyalah orang yang menjaga dirinya baik-baik. Yang tahu bahwa terlalu banyak bahaya dan ketidaknyamanan di luar sana. Macet, sama sekali tak bergerak. Bahkan untuk berhenti sejenak untuk beribadahpun rasanya sulit. Lantas mengapa harus keluar? Tak adakah hari lain yang lebih baik? Hei! Coba kau cerna apa yang kukatakan. Tidak. Aku tak memaksamu untuk sepakat dengan pendapatku. Aku hanya ingin kau mencernanya. Tidak memakannya matang-matang tanpa dicerna terlebih dahulu.
        Ditambah lagi dengan suasan semeraut kota besar. Bahkan rumah makan serta kafe sangat penuh hari itu. Asap rokok bertebaran sana sini. Belum lagi, apabila kita bermotor. Asapnya tak pantas sekali di hisap! Aku memilih diam dirumah. Menghabiskan malam untuk beristirahat. Tepatnya beristirahat dari kepenatan setelah sibuk belajar dan memikirkan segala sesuatu tiap harinya. Khusus sabtu malam, aku menyempatkan diriku untuk bebas dari segala fikiran. Tak memikirkan sesuatu yang berat, kecuali itu sangat mendesak. Aku lebih suka membaca novel dan meminum segelas kopi hangat dan cemilan lainnya. Bukankah itu jauh lebih nikmat? Walau kenikmatan aku dan kau tentunya berbeda. Nikmat itu relatif. Tak akan sama satu dengan yang lain. Kalaupun sama, pasti alasannya berbeda. Atau setidaknya aku memilih untuk tidur selepas sholat isya atau juga mendengarkan murhatal. Tidak kubiarkan bisikan busuk dari syaitan menghasutku untuk bersedih memikirkan sesuatu.
         Dan malam ini aku memilih untuk mendengarkan murhatal sambil menulis sepucuk surat cinta di pojok kamarku yang menjorok ke arah jendela kaca yang lebarnya sekitar 3x5. Tidak tahu untuk siapa. Yang jelas aku ingin menulis saja. Aku tiba-tiba teringat bagaimana romantisme cinta Ali dan Fatimah. Cinta dalam diam yang sangaaat indah. Mereka saling mencinta sejak lama, namun baru saling mengetahui ketika mereka menikah. Bagi mereka, cinta adalah ketika sudah berada didalam ikatan suci pernikahan. Bukan yang belum sah dan tak tahu kejelasannya. Tidak ada yang tahu mereka saling mencinta, bahkan dari golongan jin juga tidak tahu. Mungkin nanti, nanti aku juga akan menemukan seperti cermin diriku. Bahwa lelaki baik adalah untuk wanita baik. Aku mulai menulis. Sebaris. Dua baris. Tiga baris. Sepuluh baris. Tiga belas baris. Dan terhenti sejenak di baris ke lima belas. Tiba-tiba saja pena ditanganku terhenti. Otakku juga berhenti berfikir kata romantis itu. Ku dongakkan kepala ku. Ku pejamkan sejenak mataku. Rasanya sangat lelah. Atau mungkin mengantuk. Kemudian kubuka lagi mataku. Aku menyeka keringat di dahiku. Seperti habis berlari sepuluh meter rasanya. Sangat lelah. Selama itu juga aku berfikir, mengarahkan mataku ke arah jendela. Gelap. Hanya ada lampu lentera diluar sana. Ya, lampu yang ada dihalaman rumahku. Tiba-tiba sesuatu yang bercahaya menghampiriku. Membentuk formasi tarian yang indah. Bermain-main satu sama lain. Menyapaku seakan tahu bahwa aku butuh ketenangan menulis. Kau tahu? Mereka adalah segerombolan kunang-kunang. Yang membuat hati siapa saja yang melihatnya tenang. Aku tersenyum. Seolah memberi sapaan kembali pada mereka. Seolah berkata, "Selamat malam, juga!" mereka memainkan tarian yang semakin lama semakin indah. Kira-kira 30cm didepan kaca jendelaku. Dan mereka juga menyadarkanku tentang kuasa-Nya, bahwa Dia menyiptakan sesuatu pasti ada gunanya. Walau seekor kunang-kunang yang kecil. Walau yang tak terlihat oleh mata biasa sekalipun. Indaaaaaah sekali. Malam itu juga kutemukan sesuatu bahwa Kenikmatan cinta kepada-Nya adalah seperti tarian kunang-kunang malam ini. Bercahaya, membentuk keindahan ditengah gelapnya malam itu. Malam yang sepi bagi orang yang memilih menyendiri. Kulanjutkan sampai baris ke tiga puluh. Rasanya sangat banyak sekali yang melekat diotakku setelah melihat mereka datang. Tak akan berhenti kata-kata romantisme itu apabila tak kuhentikan. Mereka tak kalah hebatnya dengan tarian manusia. Malah menurutku jauh lebih hebat. Tapi tahukah kau bahwa kunang-kunang juga latihan menari sambil belajar terbang? Siapa yang mengajarkannya? Ibunya? Ayahnya? Beda sekali dengan manusia. Mereka diajarkan langsung oleh Tuhan mereka. Koreografer terhebat yang membuat formasi sebegitu indahnya. Maka nikmat Tuhan-Mu yang mana yang kau dustakan? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar